Rabu, 30 Oktober 2019

TUGAS JURNAL 2



Hasil gambar untuk lambang gunadarma 


     Nama               : FATHONI

     NPM                : 22417233

     Kelas               : 3IC05





MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
KALIMALANG
2019



PERALATAN DARI GEMPA DETEKSI DAN PERINGATAN DENGAN GETARAN SENSOR

Dyane Putriera Anggraenia, Nonoh Siti Aminahb, Yohanes Radiyonoc Fisika Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 57126, 


METODE PENELITIAN

Metode pembuatan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat demonstrasi dalam metode learning.The pembuatan alat ini untuk sensitivitas atau kepekaan untuk mengetahui kapan alat ini digunakan dalam mendeteksi getaran gempa dilihat dari perbedaan potensial. metode demonstrasi untuk menunjukkan konsep Getaran dan Gelombang dan konsep Pusat Massa atau titik berat, yaitu ketika bumi bergetar atau ketika simulator gempa (dynamo) dihidupkan, getaran merambat di lempeng bumi akan menyebabkan pendulum bergerak dan bergetar dan menyebabkan pendulum menyentuh lingkaran kawat tembaga terhubung listrik, dan bel. Jadi suara gempa bumi bel tanda telah / akan.

Penelitian yang dilakukan dimulai dengan tahap persiapan, yang meliputi kajian literatur dan menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat detektor dan gempa peringatan dengan sensor getaran. Tahap selanjutnya adalah pembuatan serangkaian detector.

ANALISIS DATA
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanankan maka diperoleh hasil sebagai berikut :

Gambar 2. Alat Gempa Deteksi dan Peringatan


Principal kerja



Data kualitatif

Berdasarkan grafik, kami menyimpulkan semakin besar tegangan atau tegangan listrik yang dikeluarkan semakin besar kecepatan rotasi yang dihasilkan. Tegangan listrik memiliki peran penting dalam peralatan deteksi dan gempa peringatan dengan sensor getaran ini dengan meningkatkan tegangan akan menyebabkan kecepatan rotasi yang lebih besar, hal ini mengakibatkan getaran pendulum semakin besar dan buzzer / alarm akan berbunyi lebih dinamis dari data pengamatan itu bisa disimpulkan bahwa berdasarkan jumlah loop tegangan detektor variasi 2 buah dan gempa peringatan dengan sensor getaran memiliki sensitivitas dengan tegangan mulai dari 3 V dengan jumlah loop 2 buah. Dalam penelitiannya Irnanda (2013) menyatakan bahwa tegangan input dari 5 V mampu mendeteksi gempa bumi berkekuatan 6. Dengan demikian alat ini mampu mendeteksi gempa ini.
Diagram 1. Hubungan tegangan beetwen dan ω

Demonstrasi Alat Gempa Deteksi dan Peringatan dengan Getaran Sensor memiliki Baik Memenuhi Kriteria untuk Gunakan Siswa Belajar

Butir-butir validasi penilaian dan detektor gempa peringatan dengan sensor getaran dalam Lampiran 2 meliputi tiga aspek: layar, aspek kesesuaian dengan alat eksperimental materi fisika serta aspek tingkat keberhasilan penggunaan alat-alat demonstrasi. Berdasarkan evaluasi detektor dan getaran gempa peringatan sensor disimpulkan, antara lain:
1.        Aspek tampilan Detektor dan gempa peringatan dengan sensor getaran dinilai dari aspek terlihat baik sudah memenuhi kriteria yang meliputi pemilihan jenis bahan yang mudah didapat, tata letak komponen telah diatur dengan alat peraga serta tampilan visual dari alat peraga sederhana dan tidak rumit.
2.        Aspek alat Kepatuhan Viewer dengan Materi Fisika dan Masyarakat dan Kebutuhan Siswa Berdasarkan hasil validasi, dan detektor gempa peringatan dengan menggunakan sensor getaran sesuai dengan prinsip-prinsip dasar fisika materi yang merupakan subjek dari Getaran dan Gelombang, Titik Berat, Kecepatan Putar (ω). Tujuan mengembangkan deteksi dan peringatan gempa bumi dengan sensor getaran yang memudahkan masyarakat pada umumnya untuk mengantisipasi terjadinya gempa sehingga dapat meminimalkan dampak dari gempa. Di sisi lain, kepatuhan alat ini dengan kebutuhan siswa.
3.        Aspek Success Rate Menggunakan Alat Peraga Detektor dan gempa peringatan dengan sensor getaran telah berhasil menunjukkan dalam konsep fisika khususnya menunjukkan pengaruh variasi tegangan input dari kecepatan rotasi (ω) yang dihasilkan dan dapat mendeteksi dan peringatan gempa terjadinyan melalui alarm. Semakin besar tegangan input akan menyebabkan rotor lanjut berputar cepat dan tidak teratur. Dengan demikian pendulum getaran akan lebih besar dan alarm akan berbunyi lebih cepat dan dinamis.

Jumlah total item validasi adalah 10. Skor tertinggi dicapai untuk yang ideal secara keseluruhan (10 x 5 = 50), nilai minimum yang ideal dicapai adalah (10 x 1 = 10), dengan rata-rata ideal (Mi) 30 dan standar deviasi dari ideal (Sbi) 6,67. Berdasarkan hasil penilaian dari deteksi alat demonstrasi dan peringatan gempa bumi dengan sensor getaran ditemukan bahwa nilai maksimum yang diisi oleh validator adalah 39. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa deteksi alat demonstrasi dan peringatan gempa bumi dengan sensor getaran termasuk dalam kriteria baik untuk penggunaan siswa belajar.

DAFTAR PUSTAKA

[1.]   Afriani, Fitri. 2010. Desain Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi Menggunakan Sensor Berbasis Mikrokontroler ATMEGA8535. Physic'c Konferensi: Universitas Negeri Padang.
[2.]   dkk Arief S. Sadiman. 2009. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, Dan Pemanfaatannya. Jakarta: PT. Rajawali Pers.
[3.]   Bayong, TJ. 2013. Ilmu Kebumian Dan Antariksa. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
[4.]   Daryanto. 2011. Media Pembelajaran. Bandung: Sarana Tutorial Nurani Sejahtera.
[5.]   Haifani, Achmad Muktaf. 2008. Manajemen Resiko Bencana gempa bumi. Dalam procidding Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir: STTN- BATAN, 25-25 Agustus 2008. Yogyakarta. 285. ISSN 1978-0176
[6.]   Irnanda. 2013. Transmisi Sinyal Audio through Media Jala-Jala Listrik. Jurnal Elektro. Fakultas Teknik Universitas Bengkulu.
TUGAS JURNAL 1



Hasil gambar untuk lambang gunadarma 


     Nama               : FATHONI

     NPM                : 22417233

     Kelas               : 3IC05





MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
KALIMALANG
2019



The Terputus-putus Carbon Fiber Composite: Sebuah Tinjauan Karakteristik Kerusakan
                                             
Jefri Bale
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Sains Dan Teknik, Universitas Nusa Cendana Jl. Adisucipto, Penfui-Kupang NTT, Indonesia



METODOLOGI PENELITIAN

 Bahan
Dalam studi ini, kami terutama difokuskan pada terputus-putus (bentuk chip) serat karbon sebagai penguat dan epoxy bekerja sebagai matriks yang dikenal sebagai bahan Hexcel. Secara umum, tumpukan acak chip kemudian ditekan dibentuk dan memiliki kandungan serat sekitar 57% volume dan diproduksi kepadatan materi dari 1,55 g / m3.

Test Set Up

Sebelum melakukan kerusakan analisis, bahan DCFC diuji di bawah kondisi statis dan kelelahan pemuatan untuk menentukan sifat mekanik dan penampilan kerusakan. Kemudian, analisis telah dilakukan untuk mengevaluasi perilaku kerusakan yang terjadi selama kerusakan statis dan uji kelelahan dan bagaimana akumulasi seluruh spesimen.

HASIL DAN PEMBAHASAN (BERDASARKAN STUDI KASUS) 

Mekanikal dan Kerusakan Karakteristik

Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan yang difokuskan pada analisis mekanik dan kerusakan DCFC.
Boursier dan Lopez, 2010 diselidiki inisiasi kegagalan dan efek cacat pada struktur terputus-putus serat karbon komposit. Ditemukan bahwa DFC relatif tidak sensitif terhadap jenis dan ukuran cacat yang mempengaruhi dari pada komposit serat kontinyu (CFC) dan juga awal tidak berkorelasi beban kegagalan atau memberikan indikasi yang baik dari lokasi kegagalan akhir. Gbr.2 bawah ini menunjukkan hasil eksperimen yang menunjukkan perilaku materi DFC.


Gambar. 2 Kegagalan dan sensitif dari DCFC (Boursier dan Lopez, 2010)
Beberapa penelitian tentang perilaku mekanik terputus komposit serat karbon juga dilakukan oleh Ferabolli et.al (2009, 2010). Dalam penelitian mereka tentang karakterisasi DFC untuk aplikasi Aerospace, dimensi chip 50 mm dan 8 mm lebar memberikan kompromi yang baik antara kinerja mekanik dan kemampuan manufaktur. Hasil uji tarik menunjukkan bahwa kegagalan DFC adalah kombinasi dari dua mode kegagalan: retak yang disebabkan pemisahan sepanjang permukaan yang tegak lurus terhadap sumbu chip yang dan delaminasi disebabkan pemisahan sepanjang ketebalan yang sejajar dengan panjang.
kekuatan tarik yang menunjukkan perilaku yang berbeda dari laminasi fiber terus menerus. kekuatan lentur dari DFC adalah yang tertinggi, diikuti oleh tekan, dan kemudian tarik kekuatan yang kuasi-isotropik terus menerus selalu memiliki kuat tekan terendah, tarik dan kekuatan lentur biasanya lebih dekat bersama-sama. Ini kekuatan statis DFC sangat dipengaruhi oleh panjang serat / Chip. Gbr.3 bawah ini menunjukkan hasil kekuatan statis yang berbeda dari DFC sebagai fungsi dari panjang serat.

Gambar. 3 Ultimate kekuatan DCFC untuk jenis beban yang berbeda (Ferabolli et.al, 2009)
Pengaruh kondisi spesimen (dengan dan tanpa lubang) pada perilaku tarik elastis dan kegagalan responsetor bahan DFC ini juga diteliti oleh Feraboli et.al, 2009. Untuk spesimen Unnotched, di bawah beban tarik, spesimen gagal dalam kombinasi chip disbonding (matriks geser antara chip) dan kegagalan serat seperti yang ditunjukkan pada Gbr.4.
Gambar. 5 Kegagalan di bagian bruto (Ferabolli et.al, 2009)
Untuk spesimen lubang terbuka DCFC, akibat beban tarik, perilaku kegagalan menunjukkan perilaku kegagalan yang berbeda dibandingkan dengan material komposit pada umumnya. Specimen
menunjukkan perilaku tidak sensitif karena kondisi lubang terbuka. Kegagalan spesimen terjadi di daerah bruto permukaan untuk tes tertentu dengan spesimen lubang kecil (Gbr.5). Hasil ini juga mengkonfirmasi bahwa kekuatan DCFC ini tidak menurun dengan kehadiran lubang (Gbr.6).
Gambar. 6 Variasi kekuatan kedudukan dengan diameter lubang (Ferabolli et.al, 2009)
Perilaku ini jarang sensitif lubang DCFC mungkin karena konsentrasi tegangan internal yang timbul dari sifat heterogen meso-struktur (Qian et.al, 2011 dan Bale, 2014). Dalam rangka untuk mengisolasi efek dari internal stressconcentration from     itu konsentrasi tegangan geometris dari lubang, lubang konstan untuk rasio lebar diperlukan untuk memastikan kerusakan di tepi lubang, menghasilkan tren lebih dibedakan. Lubang penting untuk ambang batas rasio lebar untuk bahan DCFC ditemukan antara 0,25 dan 0,375 (Qian et.al, 2011). Menurut Bale, 2014, Selama siklus kelelahan pertama, terjadi peningkatan pesat Secara dini
kerusakan evolusi (peningkatan rata-rata sekitar 10% selama pertama 20% dari umur kelelahan). Setelah itu, kerusakan meningkat perlahan-lahan sampai menjadi dekat dengan kegagalan akhir. Untuk yang terakhir 5% dari umur kelelahan kerusakan meningkat tiba-tiba dan sangat sebagai konsekuensi dari bencana kegagalan akhir. evolusi kerusakan menunjukkan bahwa ada tiga tahap evolusi kerusakan spesimen DCFC. matriks mikro awal retak pertumbuhan kerusakan matriks retak, Chip / matriks debonding dan chip yang retak menjadi stabil. Pada tahap ketiga, Chip kerusakan terjadi dan yang menyebabkan pemisahan sepanjang ketebalan sampai kegagalan akhir.

Non pengujian destruktif (NDT) pengamatan karakteristik kerusakan

        Banyak metode telah diaplikasikan untuk monitoring dan mengamati mekanisme
kerusakan material komposit yang diperparah oleh kenyataan bahwa kerusakan tidak
terlihat dengan mata telanjang dan dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Mengenai 
keamanan eksploitasi struktur bagian dibuat komposit, yang paling penting adalah 
karakteristik, menggambarkan penampilan dan pertumbuhan retak di bawah pengaruh 
beban statis dan dinamis. Pemantauan dan diagnosis dari struktur kompleks dalam 
operasi, membutuhkan penerapan destruktif, metode non contactless.
Pengamatan perilaku kerusakan DCFC disampaikan oleh Feraboli et.al, 2010 menggunakan ultrasonik c-scan, Bale et.al, 2013 menggunakan termografi, Obligasi et.al, 2010 dan Feraboli et.al, 2009 dengan korelasi citra digital ( DIC). Sebagai hasil dari ultrasonik c-scan, pengamatan menunjukkan bahwa DCFC materi pameran perilaku sensitif kedudukan karena sub struktur heterogen material. Selama uji tarik, ultrasonik c-scan menunjukkan bahwa penampilan hot spot berhubungan dengan makro-void, daerah yang kaya resin, di mana ditandai dengan konten volume yang rendah serat. Hot spot tumbuh jauh dari lubang, dan akhirnya menyebabkan gagal di bagian kotor seperti yang diilustrasikan pada Gambar. 7.
Dengan menggunakan pendekatan yang sama dari metode NDT termografi, Bale et.al, 2013 ditemukan hasil pengamatan perilaku kerusakan material DCFC. Evolusi
suhu muncul, menurut dua tahap. Pada bagian pertama, peningkatan kecil dalam variasi suhu mungkin karena mekanisme cacat mikro yang mulai muncul selama tes. Mekanisme cacat mikro ini juga sebagai dikenal sebagai delta-T tempat memiliki ciri-ciri seperti kilatan cahaya dan terlihat selama beberapa detik hanya dengan cara kamera IR. Pada bagian kedua, peningkatan utama suhu mencapai pada titik tertinggi yang sesuai dengan pecah yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Selama periode ini ketika mendekati kegagalan, karakteristik suara melanggar juga dapat didengar.
Gambar. 7 pencitraan ultrasonik hingga kegagalan untuk spesimen DCFC dengan lubang (Ferabolli et.al, 2009)

Semua tempat delta-T dengan intensitas yang berbeda dan lokasi tidak tumbuh secara signifikan selama tes untuk spesimen tanpa lubang. Kehadiran beberapa delta-T bisa mungkin untuk menunjukkan daerah kegagalan akhir, yang ada dan berkonsentrasi di wilayah daerah gagal. Sementara itu, sebagaicacat mikro awal yang terdeteksi oleh kamera IR, bintik-bintik delta-T ini tidak menunjukkan sebagai awal dari propagasi kerusakan atau kondisi awal kerusakan makro. Selanjutnya, delta-T tempat yang terletak di tepi spesimen bisa menjadi kemungkinan cacat mikro khas lain karena proses pemotongan spesimen. Sebelumnya oleh Penyu et.al, 2010, penyelidikan serupa ini menggunakan mikroskop optik menyimpulkan bahwa sebagian besar retak terdeteksi di tepi dengan pengamatan optik dapat menginduksi cacat mikroskopis.
    karena spesimen lebih mudah untuk retak awal karena proses pemotongan.
Gambar termografi untuk spesimen DCFC direkam oleh kamera IR pada saat tes ditunjukkan pada Gambar. 8.
Sebuah Digital Image Correlation (DIC) digunakan untuk memantau perkembangan regangan penuh bidang diskontinyu serat karbon komposit dibawah beban tarik statis dalam spesimen kedudukan melingkar dibawah beban tarik (Obligasi et.al, 2010 dan Ferabolli, 2009). Kedua hasil jelas menunjukkan bahwa konsentrasi regangan yang lebih besar ( 'A') terjadi jauh dari takik atau dapat dicatat bahwa DCFC memiliki distribusi regangan kompleks pada permukaan spesimen yang berhubungan dengan perilaku tidak sensitif karena adanya kedudukan melingkar, seperti yang terlihat pada Gambar. 9.

   pengukuran DCFC dengan rata-rata bidang penuh nilai-nilai regangan dibandingkan dengan strain gage (Ferabolli et.al, 2009). Hal ini dapat dicatat bahwa, metode NDT ultrasonik c-scan, termografi dan korelasi citra digital dapat digunakan untuk mencirikan perilaku kerusakan material DCFC dalam hal deteksi kerusakan dini dan tidak sensitif karena kehadiran lubang.

KESIMPULAN

Secara singkat, bahan DCFC menunjukkan variasi permukaan yang berbeda regangan sebagai hasil dari seluruh mendasari laminasi meso-struktur, yang pada gilirannya berarti bahwa orientasi chip melalui seluruh ketebalan spesimen menentukan perilaku ketegangan permukaan (Ferabolli et.al, 2009).
NDT pengamatan ultrasonik c-scan, termografi dan digital image korelasi acara berhasil mendeteksi dari penampilan dan penyebaran kerusakan material DCFC.

PENGAKUAN

Karya ini secara finansial didukung oleh PSA Peugeot Citroën di Perancis sebagai proyek kolaborasi dengan Leme laboratorium University of Paris Ouest Nanterre-La Défense.

REFERENSI

[1]        AM Waas, AJ Hyun, dan AR Khamseh, "kegagalan tekan dari berlekuk laminasi komposit uniply", Komposit Bagian B 29B., Hlm. 75-80, 1998.
[2]        B. Boursier, "kemungkinan Baru dengan HexMC, kinerja tinggi molding senyawa", konferensi 22 SAMPE Eropa, Maret 2001.
[3]        LT Harper, "Terputus-putus komposit serat karbon untuk aplikasi otomotif", Tesis diserahkan ke Universitas Nottingham untuk tingkat Doctor of Philosophy, 2006.
[4]        M. Turtle, T. shifman dan B. Boursier, Penyederhanaan sertifikasi terputus bentuk material komposit struktur pesawat utama, Hexcel Penelitian dan Technology.2010. http://www.hexcel.com
[5]        C. Bathias, "Sebuah sudut pandang teknik tentang kelelahan material komposit plymer matrix", International Journal Kelelahan 28. pp. 1094-1099, 2006


[6]        B. Boursier dan A. Lopez, "inisiasi Kegagalan dan efek cacat instructural komposit serat terputus", Hexcel Riset dan Teknologi, 2010. [online]. tersedia:http://www.hexcel.com.
[7]        P. Feraboli, E. Peitso, F. Deleo, T. Cleveland, M. Graves, dan P. Stickler, "Karakterisasi karbon terputus sistem serat / epoxy berbasis prepeg", Journal Penguatan Plastik Komposit, diterima untuk diterbitkan. 2009.
[8]        P. Feraboli, E. Peitso, T. Cleveland, P. Stickler B, CJ Halpin, "perilaku berkumai berbasis prepeg karbon terputus-putus
TUGAS MAKALAH

Proses Penelitian, Masalah, Variabel, dan
Paradigma Penelitian



Hasil gambar untuk lambang gunadarma 


     Nama               : FATHONI

     NPM                : 22417233

     Kelas               : 3IC05





METODOLOGI PENELITIAN
JURUSAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS GUNADARMA

KALIMALANG
2019


BAB I
PENDAHULUAN


11.1  Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu diperhadapkan dengan berbagai persoalan atau permasalahan, baik yang bersifat awam maupun masalah yang menuntut pemecahan secara sistematik. Masalah-masalah tersebut pemecahannya sering dengan cara sederhana saja dan bersifat segera dan tidak membutuhkan data-data pendukung.
Disamping masalah-masalah awam, ada masalah-masalah yang bersifat kompleks atau rumit yang pemecahannya menuntut dan memerlukan pengumpulan sejumlah data pendukung yang dipergunakan untuk membuat keputusan dan menarik kesimpulan. Masalah yang seperti inilah yang menjadi perhatian kita, khususnya dalam dunia pendidikan. Masalah seperti ini menuntut metode ilmiah untuk penyelesaiannya, yaitu melalui langkah-langkah tertentu dalam usaha memecahkan masalah yang dijumpai.
Kedudukan masalah dalam alur prosedur penelitian sangatlah penting, bahkan lebih penting dari solusi atau jawaban yang akan diperoleh/dicari, karena masalah yang dipilih dapat menentukan perumusan masalah, tujuan, hipotesis, kajian pustaka yang akan digunakan bahkan juga untuk menentukan metodologi yang tepat untuk memecahkannya.
Dalam dunia pendidikan banyak fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks dan kait-mengkait yang mengganjal yang perlu dipecahkan dalam suatu penelitian. Namun tidak semua masalah itu harus dipecahkan secara ilmiah. Olehnya itu makalah ini akan membahas masalah-masalah dalam dunia pendidikan yang dapat diselesaikan dengan suatu penelitian.


11.2  Rumusan Masalah
  Adapun masalah dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana proses suatu penelitian?
2.    Apa yang dimaksud dengan permasalahan, masalah, dan perumusan masalah dalam
     penelitian?
3.    Bagaimana perumusan tujuan penelitian?
4.    Apa yang dimaksud dengan variabel penelitian?
5.    Apa yang dimaksud dengan paradigma penelitian?

11.3  Tujuan
 Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.    Untuk mengetahui bagaimana proses suatu penelitian
2.    Untuk mengetahui penegertian dari permasalahan, masalah dan perumusan masalah
3.     Untuk mengetahui bagaimana perumusan tujuan penelitian
4.     Untuk mengetahui pengertian dari variabel penelitian
5.    Untuk mengetahui pengertian dari paradigma penelitian



BAB II
PEMBAHASAN

2.1         Pengertian Penelitian dan Proses Penelitian
a.         Penelitian
Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau proses sistematik untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah. Tujuan dari semua usaha ilmiah adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, dan mengontrol fenomena. Tujuan ini di dasarkan pada asumsi bahwa semua perilaku dan kejadian adalah benturan dan bahwa semua akibat mempunyai penyebab yang dapat diketahui.
Penelitian didefenisikan oleh banyak penulis sebagai suatu proses yang sistematik. McMillan dan Schumacher (1989) dalam Wiersma (1991:7) mendefenisikan penelitian sebagai “suatu proses sistematik pengumpulan dan penganalisisan informasi (data) untuk berbagai tujuan.” Sementara Kerlinger (1990 : 17) mendefenisikan penelitian ilmiah sebagai “penyelidikan sestematik, terkontrol, empiris, dan kritis tentang fenomena sosial yang dibimbing oleh teori dan hipotesis tentang dugaan yang berhubungan dengan fenomena tersebut.”
b.        Tahap- Tahap Proses Penelitian
1.        Mengidentifikasi Masalah
Yang dimaksud dengan mengidentifikasi masalah ialah peneliti melakukan tahap pertama dalam melakukan penelitian, yaitu merumuskan masalah yang akan diteliti. Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam penelitian, karena semua jalannya penelitian akan dituntun oleh perumusan masalah. Tanpa perumusan masalah yang jelas, maka peneliti akan kehilangan arah dalam melakukan penelitian.
2.        Membuat Hipotesa
Hipotesa merupakan jawaban sementara dari persoalan yang kita teliti. Perumusan hipotesa biasanya dibagai menjadi tiga tahapan: pertama, tentukan hipotesa penelitian yang didasari oleh asumsi penulis terhadap hubungan variable yang sedang diteliti. Kedua, tentukan hipotesa operasional yang terdiri dari Hipotesa 0 (H0) dan Hipotesa 1 (H1). H0 bersifat netral dan H1 bersifat tidak netral. Perlu diketahui bahwa tidak semua penelitian memerlukan hipotesa, seperti misalnya penelitian deskriptif.
3.        Studi Literature
Pada tahapan ini peneliti melakukan apa yang disebut dengan kajian pustaka, yaitu mempelajari buku-buku referensi dan hasil penelitian sejenis sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang lain. Tujuannya ialah untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti. Teori merupakan pijakan bagi peneliti untuk memahami persoalan yang diteliti dengan benar dan sesuai dengan kerangka berpikir ilmiah.
4.        Mengidentifikasi dan Menamai Variabel
Melakukan identifikasi dan menamai variable merupakan salah satu tahapan yang penting karena hanya dengan mengenal variabel yang sedang diteliti seorang peneliti dapat memahami hubungan dan makna variable-variabel yang sedang diteliti.
5.        Membuat Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi yang menjadikan variable-variabel yang sedang diteliti menjadi bersifat operasional dalam kaitannya dengan proses pengukuran variable-variabel tersebut. Definisi operasional memungkinan sebuah konsep yang bersifat abstrak dijadikan suatu yang operasional sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan pengukuran.
6.        Memanipulasi dan Mengontrol Variabel
Yang dimaksud dengan memanipulasi variable ialah memberikan suatu perlakuan pada variable bebas dengan tujuan peneliti dapat melihat efeknya bagi variable tergantung atau variable yang dipengaruhinya. Sedang yang dimaksud dengan mengontrol variable ialah melakukan kontrol terhadap variable tertentu dalam penelitian agar variable tersebut tidak mengganggu hubungan antara variable bebas dan variable tergantung.
7.        Menyusun Desain Penelitian
Apa yang dimaksud dengan menyusun desain penelitian? Desain penelitian khususnya dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif merupakan alat dalam penelitian dimana seorang peneliti tergantung dalam menentukan berhasil atau tidaknya suatu penelitian yang sedang dilakukan. Desain penelitian bagaikan alat penuntun bagi peneliti dalam melakukan proses penentuan instrumen pengambilan data, penentuan sample, koleksi data dan analisanya. Tanpa desain yang baik maka penelitian yang dilakukan akan tidak mempunyai validitas yang tinggi.
8.        Mengidentifikasi dan Menyusun Alat Observasi dan Pengukuran
Yang dimaksud pada bagian ini ialah tahap dimana seorang peneliti harus melakukan identifikasi alat apa yang sesuai untuk mengambil data dalam hubungannya dengan tujuan penelitannya. Pada penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif biasanya peneliti menggunakan kuesioner, khususnya dalam penelitian-penelitian jenis Ex Post Facto.
9.        Membuat Kuesioner dan Jadwal Interview
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, kuesioner merupakan salah satu alat yang penting untuk pengambilan data; oleh karena itu, peneliti harus dapat membuat kuesioner dengan baik. Cara membuat kuesioner dapat dibagi dua, yaitu dari sisi format pertanyaan dan model jawaban. Disamping kuesioner, alat pengambilan data juga dapat dilakukan dengan interview. Cara-cara melakukan interview diatur secara sistematis agar dapat memperoleh informasi dan/atau data yang berkualitas dan sesuai dengan yang diinginkan oleh peneliti.
10.    Melakukan Analisa Statistik
Salah satu cirri yang menonjol dalam penelitian yang menggunanakan pendekatan kuantitatif ialah adanya analisa statistik. Analisa statistik digunakan untuk membantu peneliti mengetahui makna hubungan antar variable. Sampai saat ini, analisa statistik merupakan satu-satunya alat yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah untuk menghitung besarnya hubungan antar variable, untuk memprediksi pengaruh variable bebas terhadap variable tergantung, untuk melihat besarnya pesentase atau rata-rata besarnya suatu variable yang kita ukur.

11.    Menggunakan Komputer untuk Analisa Data
Dengan berkembangnya teknologi komputer yang semakin canggih dan dituntutnya melakukan penelitian secara lebih cepat serta kemungkinan besarnya jumlah data, maka seorang peneliti memerlukan bantuan komputer untuk melakukan analisa data. Banyak perangkat lunak yang telah dikembangkan untuk membantu peneliti dalam melakukan analisa data, baik yang bersifat pengelohan data maupun analisanya. Salah satu program yang popular ialah program SPSS.
12.    Menulis Laporan Hasil Penelitian
Tahap terakhir dalam penelitian ialah membuat laporan mengenai hasil penelitian secara tertulis. Laporan secara tertulis perlu dibuat agar peneliti dapat mengkomunkasikan hasil penelitiannya kepada para pembaca atau penyandang dana.

2.2.  Permasalahan, Masalah, dan Perumusan Masalah Penelitian
a.     Permasalahan dan Masalah
Masalah penelitian dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain dilihat dari sisi waktu, biaya, kemampuan si peneliti maupun kontribusi yang akan diberikan oleh penelitian tersebut bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Masalah atau disebut juga problem adalah suatu penelitian. Proses mencari jawaban dari permasalahan hanya bisa dilakukan melalui proses penelitian. Dengan demikian suatu permasalahan muncul sebelum kegiatan proses penelitian itu dilakukan. Sedangkan masalah atau permasalahan dalam penelitian tak terlepas erat kaitanya denga kehidupan sehari-hari dan merupakan suatu yang lumrah terjadi.
Masalah atau permasalahan ada jika terdapat kesenjangan antara das Sollen dan das Sein. Kesenjangan tersebut meliputi dalam materi, pengetahuan, pendidikan, tekhnologi pembelajaran, atau penerapan suatu model-model pembelajaran di lapangan (Gay,1987). Permasalahan dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang dijadikan target yang telah ditetapkan oleh peneliti, tetapi karena suatu hal target tidak dapat dicapai. Sesuatu hal yang menyebabkan tidak terjadinya target disebut masalah.
Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi, antara teori dengan praktek, antara aturan dengan pelaksanaan, antara rencana dengan pelaksanaan. Stoner (1982) mengemukakan bahawa masalah-masalah dapat diketahui atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya pengaduan, dan kompetisi.
Menurut Agung Wijaya, Masalah merupakan suatu keadaan yang tidak seimbang antara harapan/keinginan dengan kenyataan yang ada. Pendapat lain dari Istijanto, masalah merupakan bagian yang paling penting dalam proses riset, sebab masalah memberi pedoman jenis informasi yang nantinya akan dicari.

b.        Perumusan Masalah Penelitian
Perumusan masalah merupakan hal utama yang ditentukan pada saat pertama kali akan dilakukan riset. Suriasumantri (2003:312) menyebutkan bahwa rumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pernyataan-peryataan apa saja yang ingin kita cari jawabannya. Dapat dinyatakan bahwa perumusan masalah merupakan pernyataan spesifik mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti.
Rumusan masalah diperoleh dari identifikasi masalah yang sudah diajukan. Jika identifikasi masalah masih sangat luas cakupannya, maka rumusan masalah merupakan masalah spesifik yang sudah dibatasi untuk diteliti lebih lanjut oleh peneliti.
Dalam rumusan masalah yang dibuat, sudah tergambar dengan jelas desain penelitian yang akan dilakukan, apakah menggunakan desain kualitatif, kuantitatif (korelasional, komparasi, dan deskriptif), dan seterusnya.
      
          Bentuk-bentuk Rumusan Masalah Penelitian :
1.      Rumusan masalah Deskriptif : rumusan masalah yang berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variable mandiri, baik hanya pada satu variable atau lebih (variable yang berdiri sendiri)
2.      Rumusan Masalah Komparatif: rumusan masalah penelitian yang membandingkan keberadaan satu variable atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.
3.      Rumusan Masalah Asosiatif : suatu rumusan masalah penelitian yang bersifat menannyakan hubungan antara dua variable atau lebih.
a)    Hubungan Simetris : suatu hubungan antara dua variable atau lebih yang kebetulan munculnya bersama.
b)   Hubungan Kausal : hubungan yang bersifat sebab akibat. Variable independent (variable yang mempengaruhi) dan variable dependent (variable yang di pengaruhi).
c)   Hubungan interaktif/reciprocal/timbal balik : hubungan yang saling mempengaruhi.

c.         Langkah – langkah Perumusan Masalah
Langkah 1         : Tentukan fokus penelitian
Langkah 2         : Cari berbagai kemungkinan factor yang ada kaitan dengan focus
   Tersebut yang dalam hal ini dinamakan subfokus
Langkah 3         : Dari antara factor – factor yang terkait adakan pengkajian mana yang
   Sangat menarik untuk ditelaah, kemudian tetapkan mana yang dipilih
Langkah 4         : kaitkan secara logis factor – factor subfokus yang dipilih dengan
  focus penelitian.

d.        Rumusan  Masalah yang Baik
Rumusan masalah penelitian yang baik, antara lain:
a.        Bersifat orisinil, belum ada atau belum banyak orang lain yang meneliti masalah
tersebut.
b.    Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan terhadap masyarakat.
c.    Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.
d.   Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah tersebut.
e.    Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
f.     Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat istiadat, ideologi,
    dan kepercayaan agama.

2.3 Perumusan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan ungkapan sasaran yang akan dicapai dalam suatu penelitian. Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan kongkrit, jelas dan ringkas dan dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Isi dan rumusan tujuan penelitian harus mengacu pada rumusan masalah penelitian.
Dalam penelitian deskriptif, tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran dan diskripsi secara rinci, sistematis dan akurat suatu fenomena. Rumusan tujuan penelitian deskriptif meliputi mengklasifikasi dan menguraikan tentang sifat-sifat atau faktor-faktor fenomena tersebut. Suatu penelitian ada yang hanya memerlukan satu tujuan, ada juga mempunyai beberapa tujuan sesuai dengan sub-permasalahan (Zainuddin:1988).
Tujuan penelitian merupakan rumusan kalimat yang menunjukkan adanya hasil, sesuatu yang diperolah setelah penelitian penelitian selesai, sesuatu yang  akan dicapai/dituju dalam sebuah penelitian. Rumusan tujuan mengungkapkan keinginan peniliti untuk memperoleh jawaban atas permasalahan penelitian yang diajukan. Oleh karena, rumusan tujuan harus relevan dengan identitas masalah yang ditemukan, rumusan masalah dan mencerminkan proses penelitian.  Tujuan penelitian berfungsi :
1.      Untuk mengetahui deskripsi berbagai fenomena alamiah
2.      Untuk menerangkan hubungan antara berbagai kejadian
3.      Untuk memecahkan masalah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
4.      Untuk memperlihatkan efek tertentu

 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a.      Tujuan Umum, mengandung uraian garis besar sasaran akhir secara keseluruan yang akan dicapai
b.     Tujuan khusus, mengandung uraian secara rinci untuk mencapai tujuan umum.

2.4 Variabel Penelitian
Variabel Penelitian adalah suatu atribut, nilai/ sifat dari objek, individu / kegiatan yang mempunyai banyak variasi tertentu antara satu dan lainnya yang telah ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan dicari Informasinya serta ditarik kesimpulannya.
Beberapa definisi Variabel menurut para ahli :
1.     Menurut Hatch dan Farhady(1981), variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau objek yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan objek yang lain.
2.    Menurut Kerlinger (1973) menyatakan bahwa variabel adalah kontruk(constructs) atau sifat yang akan dipelajari. Misalnya : tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikan, status social, jenis kelamin, golongan gaji, produktifitas kerja, dll.
3.    Menurut kidder (1981),variabel penelitian adalah suatu kualitas dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
4.    Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009)

a. Macam – macam Variabel
Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain, maka macam-macam variabel penelitian yaitu:
1.    Variabel independen
Variabel ini sering disebut variabel stimulus, prediktor, antecedent. Dalam bahasa indonesia disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel ini biasa disebut juga variabel eksogen.
2.      Variabel dependen
Variabel dependen disebut juga variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa indonesia disebut variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat disebut juga varabel indogen.
3.      Variabel moderator
Variabel moderator adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variabel independen dengan dependen.
4. Variabel intervening
Menurut Tuckman(1988), “An intervening variabel is that factor that theoritically affect the observed phenomenon but cannot be seen, measure, or manipulated.” Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan atara variabel independen dengan dependen, tetapi tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini adalah variabel penyela/antara yang terletak dianatara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen.
5.    Variabel kontrol
Variabel control adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel independen terhadap dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel kontrol sering digunakan, bila akan melakukan penilitian yang bersifat membandingkan, melalui penelitian eksperimen.

2.5 Paradigma Penelitian      
Paradigma adalah cara pandang atau melihat sesuatu yang hidup dalam diri seseorang dan mempengaruhi orang tersebut dalam memandang realitas sekitarnya. Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori yang dikonstruksi sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian (Guba & Lincoln, 1988: 89-115).
Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Kuhn (1962), dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs (1970). Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang kemudian menghasilkan mode of knowing yang spesifik. Definisi tersebut dipertegas oleh Friedrichs (1980), sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer, dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.
            Norman K. Denzin membagi paradigma kepada tiga elemen yang meliputi; epistemologi, ontologi, dan metodologi.
1.      Epistemologi mempertanyakan tentang bagimana cara kita mengetahui sesuatu, dan apa hubungan antara peneliti dengan pengetahuan.
2.      Ontologi berkaitan dengan pertanyaan dasar tentang hakikat realitas.
3.      Metodologi memfocuskan pada bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan
Dari definisi dan muatan paradigma ini, Zamroni mengungkapkan tentang posisi paradigma sebagai alat bantu bagi ilmuwan untuk merumuskan berbagai hal yang berkaitan dengan; (1) apa yang harus dipelajari; (2) persoalan-persoalan apa yang harus dijawab; (3) bagaimana metode untuk menjawabnya; dan (4) aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh.
Secara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Pendekatan  kuantitatif dibangun berlandaskan paradigma positivisme dari August Comte (1798-1857), sedangkan penelitian kualitatif dibangun berlandaskan paradigma fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1926).
Pendekatan kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Paradigma ini disebut juga dengan paradigma tradisional (traditional), eksperimental (experimental), atau empiris (empiricist). Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason).



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
   Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat dibuat beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut :
1.        Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau proses sistematik untuk memecahkan masalah yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah. Tujuan dari semua usaha ilmiah adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, dan mengontrol fenomena.
2.        Tujuan penelitian merupakan rumusan kalimat yang menunjukkan adanya hasil, sesuatu yang diperolah setelah penelitian penelitian selesai, sesuatu yang  akan dicapai/dituju dalam sebuah penelitian.
3.        Rumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pernyataan-peryataan apa saja yang ingin kita cari jawabannya. Dapat dinyatakan bahwa perumusan masalah merupakan pernyataan spesifik mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti.
4.        Variabel Penelitian adalah suatu atribut, nilai/ sifat dari objek, individu / kegiatan yang mempunyai banyak variasi tertentu antara satu dan lainnya yang telah ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan dicari Informasinya serta ditarik kesimpulannya.
5.        Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori yang dikonstruksi sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari.



DAFTAR PUSTAKA

Emzir, 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta
Sedarmayanti dan Hidayat .2011. Metodologi Penelitian. Bandung: CV Mandar Maju. Hal. 36.



Teknik Bongkar Pasang, Analisa Kerusakan pada Komponen Mesin

TUGAS PERAWATAN  MESIN TEKNIK BONGKAR - PASANG, ANALISA KERUSAKAN PADA KOMPONEN MESIN Nama : Fathoni Kelas : 3IC05 NPM : 22417233 TEKNIK BON...